Sementara 1

Bab 1 – Musim Sunyi, Musim Bertemu

“And if you’re still breathing, you’re the lucky ones…”


Lagu Youth dari Daughter mengalun pelan di kamar kecilku.

Hujan turun tipis di luar jendela, mengaburkan pandangan ke arah bangunan tua di seberang.

Di meja, secangkir kopi yang mulai dingin, dan buku catatan yang terbuka, penuh coretan-coretan patah yang belum selesai.


Malam seperti ini sudah menjadi rutinitas—aku, lagu-lagu sunyi, dan perasaan yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan.


Aku hidup jauh dari rumah. Tapi yang paling terasa jauh, adalah diriku sendiri. Sudah dua tahun aku hidup di negeri ini.

Bukan negeri impian, dan bukan pula negeri yang menyambutku dengan pelukan hangat. 

Aku datang dengan semangat penuh dan kepala penuh harapan. Tapi harapan, seperti benih, tidak selalu tumbuh hanya karena ditanam.


Hari-hariku diisi oleh kuliah yang padat, kerja paruh waktu yang melelahkan, dan ruang-ruang kosong yang kian hari kian melebar di dalam dada. Aku menjalani semuanya sendiri — bukan karena aku tak ingin ditemani, tapi karena perlahan-lahan, orang-orang mulai menjauhiku.


Entah sejak kapan, aku merasa tidak diinginkan.

Tatapan sinis, gumaman halus yang terasa seperti sayatan kecil, dan bisik-bisik di belakang punggungku mulai menjadi hal yang biasa.

Aku tak tahu pasti apa salahku. Aku mencoba bertanya-tanya, mencoba menyelami diri sendiri, mencoba meminta maaf bahkan untuk hal yang tak kumengerti. Tapi tetap saja, jarak itu tumbuh, dan aku ditinggalkan dalam sunyi.


Aku makan sendiri. Pulang sendiri. Menangis tanpa suara di kamar yang tak pernah benar-benar terasa seperti rumah.

Aku menulis, bukan karena aku senang, tapi karena aku perlu tempat untuk mengalirkan rasa yang tak bisa kutumpahkan ke siapa-siapa.


Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri:

“Apakah aku memang seburuk itu?”

“Apa aku terlalu berbeda?”

“Atau ini hanya cara semesta mengujiku—untuk tahu, sekuat apa aku bertahan?”


Hari-hariku gelap. Aku hidup, tapi tidak benar-benar hidup.

Dan seperti semua luka yang tidak diobati, aku pun mulai kehilangan arah. Aku mulai bertanya, untuk apa aku datang sejauh ini… jika ternyata yang kutemui hanyalah dingin dan asing?



Hingga suatu hari, salah satu teman dekatku mengajakku ke rumahnya untuk berkumpul.

Bukan acara istimewa—hanya pertemuan kecil, makan malam sederhana, tawa ringan, dan ruang hangat yang sudah lama tidak kurasakan.


Awalnya aku hampir menolak. Hatiku terlalu lelah untuk duduk di tengah keramaian. Tapi entah kenapa, malam itu aku berkata ya. Mungkin karena aku sudah terlalu lama sendiri.


Saat aku tiba, suasana masih tenang. Tak lama, sekelompok teman laki-laki datang. Di antara mereka, mataku tertuju pada satu orang—bukan Ezra, tapi temannya yang lain.

Dia tidak banyak bicara. Diam, penuh rahasia, dan memiliki aura yang membuatku penasaran. Dia tampak tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan yang riuh di sekelilingnya, tapi justru itulah yang menarikku.


Hatiku sempat bergetar. Mungkin hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuatku bertanya-tanya.

“Siapa dia?”

“Mengapa diamnya justru lebih bersuara daripada yang banyak bicara?”


Namun seiring waktu dan kebersamaan yang lebih sering, aku mulai tahu lebih banyak.

Dan perlahan aku pun tahu—bahwa si Lian, pria yang sempat membuat hatiku tertarik diam-diam itu, sudah memiliki pasangan.

Bukan kisah yang mengejutkan, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa rasa itu harus segera kusimpan kembali.

Aku mengerti tempatku. Dan aku mundur, sebelum rasa tumbuh menjadi luka.


Tapi saat aku melangkah menjauh dari bayangan si Lian,

aku baru benar-benar menyadari satu hal: ada satu orang yang selama ini diam-diam hadir lebih dekat.


Ezra.


Ramah, terbuka, penuh canda, dan selalu jadi pusat tawa di setiap perkumpulan kami.

Jujur saja, awalnya aku tak terlalu memperhatikannya. Ia terlalu ramai, terlalu terbuka—sesuatu yang saat itu justru membuatku merasa asing.

Aku terbiasa dengan sunyi. Dan aku pikir aku hanya bisa cocok dengan orang yang juga hidup dalam diam.


Namun perlahan, kehadirannya mengubah banyak hal.

Ia mulai mengajakku bicara lebih banyak.

Menanyakan kabarku.

Membawakan sesuatu saat kami berkumpul.

Duduk lebih dekat dari biasanya.

Memandangku bukan sekadar sebagai teman dari temannya—tapi sebagai seseorang yang sedang ia pelajari dengan sungguh-sungguh.


Dia mendengarkan—bukan hanya kata-kataku, tapi juga caraku diam.

Dia tertawa bersamaku, tapi juga hadir saat aku sedang ingin pergi dari keramaian.


Awalnya aku ragu. Hatiku masih penuh luka yang belum sembuh.

Tapi dia tidak terburu-buru. Dia tidak datang untuk mengejutkan. Dia datang untuk menenangkan.

Dan dari ketulusan itu, aku mulai percaya…

bahwa mungkin cinta tak selalu datang dari arah yang kita tunggu,

tapi dari mereka yang tak pernah pergi.


Dan untuk pertama kalinya setelah sekian banyak luka,

aku merasa seperti disambut pulang.


Bukan ke rumah, bukan ke tempat,

tapi ke rasa yang sudah lama hilang:

rasa dimengerti.


Comments