Langkah Kecil ke Istanbul
Ada sesuatu yang tak bisa kuabaikan dalam enam bulan terakhir di tahun ini—sebuah mimpi kecil yang terus berbisik dalam benakku: menjelajahi satu negara baru sebelum usia 25. Sederhana, tapi cukup untuk membuatku gelisah di malam hari, memikirkan cara untuk mewujudkannya.
Baru saja aku melewati momen penting dalam hidupku—wisuda strata satu di sebuah universitas di Turki. Bahagia, tentu. Tapi di balik toga dan senyum di foto, ada hasrat yang tak bisa kutunda lagi: mencari penghasilan sendiri. Bukan demi kemewahan, hanya demi satu hal yang sudah lama kutanam dalam hati—mewujudkan janji pada diri sendiri: “umur 25, 10 negara baru.”
Dengan bekal nekat dan keyakinan yang entah datang dari mana, aku mulai mencari peluang. Sampai kutemukan satu celah harapan—sebuah informasi samar tentang pekerjaan di Istanbul. Katanya, pekerjaan itu di sebuah kafe, sebagai pencuci piring. Tak banyak yang bisa digali. Gaji? Tidak disebutkan. Tempat tinggal? Tidak pasti. Tapi bukankah aku memang selalu punya kebiasaan aneh: mengikuti firasat meski tanpa peta yang jelas?
Maka pagi itu, aku memesan tiket bus seharga 700 lira, merangkul segala ketidakpastian, dan memulai perjalanan sejauh enam hingga tujuh jam menuju kota yang tak benar-benar kukenal… Istanbul. Dengan langkah ringan namun hati berdebar, aku hanya membawa satu tas ransel dan sebuah tas selempang kecil—cukup untuk menyimpan baju secukupnya, sebotol air, dan keberanian yang tersisa.
Dan begitulah aku melangkah, sendirian di antara deru mesin bus dan peta yang belum tergambar jelas. Tentang apa yang menantiku di ujung perjalanan, aku pun belum tahu…
Namun kisah ini—baru saja dimulai.
🤍
ReplyDelete