Lara

Namanya Selaras Rindu.

Begitu indah dan merdu didengar, layaknya bait puisi yang dibisikkan senja kepada angin..


Orang-orang yang pertama kali mendengar namanya sering terdiam sejenak. Ada yang tersenyum, ada yang bertanya,


“Siapa yang memberi nama seindah itu?”


Tapi tak banyak yang tahu—bahwa ia tak pernah dipanggil dengan nama lengkapnya. Bagi semua orang, bahkan bagi dirinya sendiri, ia hanya Lara.


Lara.

Sepotong nama yang terdengar sederhana, tapi menyimpan segenap kesedihan yang tak bisa diucap.




“Kenapa nggak Rindu aja, Bu? Atau… Selaras? Kan lebih cantik” pernah Lara bertanya, setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh.

“Kayaknya lebih manis deh dari pada Lara. Kedengerannya sedih banget.”


Ibunya tak langsung menjawab. Hanya tersenyum, lalu mengusap rambut Lara perlahan.


“Karena waktu itu… yang paling terasa cuma laranya, nak..”



Kini, Lara tumbuh menjadi perempuan yang hidupnya tampak tenang—teratur bahkan.

Ia bekerja di sebuah kantor percetakan kecil, di pusat kota. Kantornya tidak besar, tidak juga bergengsi. Tapi cukup untuk memberinya rutinitas, dan sedikit arti. Ruangannya sempit, tapi bersih. Meja kerjanya menghadap ke jendela yang jarang dibuka, dan di sudut mejanya berdiri boneka beruang kecil berwarna cokelat tua— yang ia letakkan di sana sebagai pengingat bahwa ia juga punya masa lalu yang lembut. 


Setiap pagi, ia selalu datang lebih awal. Membuka tirai jendela yang berdebu, menyalakan komputer tua yang berbunyi seperti keluhan, lalu duduk diam di mejanya dengan secangkir kopi yang masih mengepul.


Di balik semua ketenangan itu, hidup Lara tak pernah benar-benar ramah. Hidup Lara seperti dihiasi kutukan kecil—hal-hal ganjil yang datang diam-diam dan meninggalkan jejak kesal tanpa suara.


Seperti pagi itu.

Ia baru saja keluar rumah saat hujan turun tiba-tiba. Ia menoleh ke langit dengan pasrah, lalu merogoh tasnya. Kosong. Payungnya tertinggal. Lagi.


Akhirnya ia berlari kecil ke halte, tapi baru saja ia sampai, bus yang biasa ia naiki melaju begitu saja. Supirnya tak melihat. Atau mungkin saja pura-pura tidak.



“Ya udah… ngopi dulu aja, neng,” kata bang Rayo seorang pemilik warung kecil di sebelah halte sambil tersenyum.


“Bukan kopi yang aku butuh sekarang, Bang… tapi waktu yang mau kompromi,” jawab Lara sambil mencoba tertawa. Meski suaranya lebih mirip helaan napas panjang.



Kesialan kecil seperti itu sudah menemani Lara sejak dulu.


Seperti ketika teman-temannya menang undian hadiah, ia malah mendapat permen yang sudah kedaluwarsa.

Saat lomba menggambar, spidolnya kering.

Pernah pula ia tampil di acara sekolah dengan sepatu berbeda kanan-kiri karena terlalu gugup pagi itu.


Dan kini, saat dewasa, kesialan itu tak benar-benar pergi.

Printer di kantornya selalu error kalau dia yang menekan tombolnya. Nasi bekalnya sering basi meski baru dimasak tadi pagi, atau terkadang rasanya tidak karuan. Bahkan, suatu waktu, jas hujan yang ia pakai malah robek di tengah jalan—menyisakan punggungnya basah hingga ke dalam baju.


“Lagi-lagi kamu apes, La,” kata rekan kerjanya sambil tertawa ringan.


Lara ikut tersenyum, walau senyumnya hanya separuh hati.


“Sudah biasa. Aku dan sial itu… kayaknya udah jodoh dari lama deh.”



Lara tidak pernah benar-benar mengeluh. Ia terbiasa menelan semuanya diam-diam. Seperti teh yang sudah dingin—tetap diminum, meski rasanya tak lagi hangat.


Namun, dari semua hal yang menjatuhkannya, ada satu yang tetap membuatnya teguh berdiri: suara ibunya.

Karena setiap kali sang ibu memanggilnya “Lara”, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan.

Ada luka yang tak terasa terlalu sakit.

Ada rindu yang entah milik siapa, tapi terus hidup dalam namanya.

Comments

Popular Posts