Pendosa yang Berdoa Paling Keras

Ia berpura-pura suci

dengan darah masih menetes di jemarinya.

Berdoa paling keras,

agar dunia tak mendengar jeritan yang ia tinggalkan di belakang.


Namaku ia bisikkan pelan-pelan

dalam doa-doa palsunya—

seolah aku masih tinggal di dadanya,

padahal hanya dijadikan tameng

agar luka-lukanya tak bernama.


Wajahku dijadikan layar,

tempat ia proyeksikan kepalsuan yang rapi:

bahwa akulah badai,

dan ia—korban dari cinta yang terlalu dalam.


Padahal saat aku mencintai,

ia menghitung langkah menuju pelukan yang bukan miliknya.

Saat aku berdoa untuk kita,

ia menuliskan pesan-pesan gelap di tengah malam

kepada hati yang bukan milikku.


Tapi ia bersikeras:

“Jangan musuhi aku.”

Katanya: “Mari tetap baik.”

Yang ia maksud:

diam.

Diam, agar luka ini tak menggema

dan membangunkan jiwa-jiwa yang pernah ia sentuh dengan dusta.


Dan betapa menyakitkannya—

melihat dunia mengangguk padanya,

sementara aku dikuburkan hidup-hidup

dalam cerita yang ia pahat

dari tulang-tulang kebohongan.


Comments

Popular Posts