Sementara 3
Bab 3 – Saat Rumah Itu Harus Aku Tinggalkan
“I remember it all too well…”
Lagu All Too Well dari Taylor Swift mengalun lembut di malam yang sunyi.
Seperti melodi yang menelusup ke sudut hati, mengingatkanku pada saat-saat terakhir ketika kami mulai saling berjauhan.
Kami memutuskan untuk break—bukan karena tak ada cinta,
tapi karena masalah yang mulai menumpuk dan membebani kami.
Salah satunya adalah izin tinggalnya yang hampir habis,
sesuatu yang tak bisa kami kendalikan dan terus menghantui masa depan kami bersama.
Setelah break, dia harus kembali ke tanah kelahiran kami.
Bukan karena keinginannya,
tapi karena keadaan yang memaksa.
⸻
Jarak dan waktu mulai menciptakan ruang-ruang kosong di antara kami.
Pesan yang dulunya cepat dibalas, mulai lama dan terputus-putus.
Panggilan yang dulu selalu dinanti, kini menjadi momen yang jarang dan singkat.
Aku berusaha memegang harapan, berusaha percaya bahwa kami masih bisa bertahan.
Namun kenyataan berkata lain.
Aku di sini, berjuang menyelesaikan kuliah dan hidupku di negeri asing.
Dia di sana, menghadapi tekanan yang tak bisa kuperbaiki,
menghadapi kenyataan yang kami tak bisa lawan bersama.
Dan jeda itu, yang kami sepakati agar bisa bernapas,
justru menjadi pintu yang membiarkan kami terpisah lebih jauh dari sebelumnya.
⸻
Setelah kami memutuskan untuk berpisah, kami tak benar-benar pergi jauh.
Tidak ada saling memblokir, tidak ada amarah.
Kami masih saling mengirim kabar, masih tersenyum saat mengingat hal-hal kecil yang pernah kami lewati.
Bahkan ketika aku pulang ke negara kelahiran kami, kami sempat bertemu.
Kami makan bersama, berbicara, dan tertawa—meski kini dengan jeda yang lebih panjang di antara kalimat.
Di saat itu, ada getaran kecil di hatiku yang berkata,
mungkin masih ada cara untuk kita bersama.
Aku memupuk harapan itu, meyakinkan diriku bahwa cinta kami belum benar-benar berakhir.
⸻
Namun harapan itu runtuh dalam satu hari yang tak terduga.
Saat aku sedang berada di luar kota, bertemu dengan seorang teman perempuan lama,
dia memberitahuku sesuatu yang mengubah segalanya.
“Kyla… kamu masih dekat sama dia, ya?”
Aku mengangguk pelan.
“Kami sudah putus, tapi masih komunikasi baik.”
Dia menarik napas panjang.
“Aku nggak tahu harus bilang atau nggak… tapi pacarku nemu chat Ezra sama cewek lain di HP-nya”
Lidahku kelu. Aku tak bisa langsung menjawab.
“Isinya kayak kode-kode buat ketemu dan hal-hal seperti itu”
“Aku nggak tahu detailnya, aku juga nggak lihat langsung. Tapi pacarku cerita dan… aku ngerasa kamu berhak tahu.”
Dunia berhenti.
Bukan karena aku belum pernah merasakan sakit,
tapi karena aku tidak pernah mengira luka kali ini datang setelah aku berusaha tetap percaya.
⸻
Aku tidak langsung menghadapinya.
Aku butuh waktu.
Aku perlu memastikan bahwa ini bukan hanya rasa kecewa yang datang dari ekspektasi.
Aku perlu tahu bahwa aku benar-benar melihatnya dengan mata terbuka—bukan hanya dengan hati yang masih berharap.
Dan ketika aku akhirnya bertanya, dia tidak membantah.
Tidak marah. Tidak memutarbalikkan.
“Kita udah nggak bareng waktu itu. Aku ngerasa kosong. Aku bingung.
Aku kira kamu juga udah jalan sama hidup kamu sendiri.”
Lucu ya…
Bagaimana satu kalimat bisa membuat kita merasa seperti orang asing,
padahal dulu kita pernah menjadi rumah satu sama lain.
⸻
Setelah itu, aku benar-benar melepaskan.
Bukan karena aku membencinya.
Tapi karena untuk pertama kalinya, aku tahu aku harus menyelamatkan diriku sendiri.
Comments
Post a Comment
Titip pesan apapun untuk Lala<3