Sementara 4

Bab 4 – Bayang-Bayang dan Pertemuan yang Tak Terduga


“I can see you standing, honey, with his arms around your body…”


Lagu itu tiba-tiba terputar dari playlist-ku—padahal aku sudah lama menghindarinya.

Tapi nadanya masih tahu jalan pulang ke tempat yang paling rapuh dalam diriku.


Aku pernah mencintai seseorang yang kuanggap rumah.

Pernah merasa begitu dicintai, dimengerti, bahkan dilindungi oleh tangan yang kini hanya bisa kukenang dari jauh.

Dan setelah semuanya berakhir, aku memaksa diriku untuk percaya:

mungkin masih ada yang lain di luar sana,

seseorang yang bisa menuntunku kembali ke versi terbaik dari diriku sendiri.



Awalnya aku mencoba—pelan-pelan.

Mengenal orang baru.

Membuka obrolan, membalas pesan, mencoba tertawa meski hatiku belum sepenuhnya bebas.

Ada satu laki-laki yang cukup lama bersamaku dalam obrolan ringan, candaan manis, dan pertemuan singkat.

Dia baik, dia perhatian, dia bahkan sedikit mengingatkanku pada Ezra.


Tapi justru di situlah masalahnya:

Setiap gestur kebaikan mengingatkanku pada Ezra.

Setiap senyuman tulus terasa seperti bayangan yang tak kunjung pudar.

Aku duduk di depan laki-laki yang sepenuhnya berbeda,

tapi pikiranku justru sibuk membandingkan, menakar, dan menyesali segalanya.


Aku tahu ini tidak adil.

Tidak adil untukku, tidak adil untuk mereka.

Tapi begitulah cinta yang pernah begitu dalam—ia meninggalkan gema,

dan gema itu butuh waktu untuk mereda.



Beberapa waktu berlalu, dan aku tak lagi dekat dengan siapapun.

Aku lelah membuka pintu yang tak benar-benar bisa kubuka dengan jujur.

Aku mulai memilih diam, memeluk diriku sendiri, dan membiarkan waktu menjadi penyembuh.


Lalu, datanglah Lian.


Lian bukan orang baru, sebenarnya.

Dia pernah menjadi bagian dari lingkaranku—teman dari teman, seseorang yang dulu hanya kukenal dari percakapan pendek dan pandangan singkat.

Dulu aku sempat tertarik padanya,

sebelum akhirnya hatiku jatuh pada Ezra yang lebih terang, lebih vokal, lebih ekspresif.


Lian dulu diam. Sangat diam.

Hampir seperti bayangan yang tidak ingin dikenal terlalu dalam.

Tapi kini, entah bagaimana, semesta mempertemukan kami kembali… dalam bentuk yang berbeda.



Semuanya dimulai dari pesan yang tampak sederhana.

Bukan ucapan rindu, bukan basa-basi kosong.

Aku hanya menanyakan satu hal:


“Kamu bisa main gitar, ya? Bisa ajarin aku nggak?”


Tak kusangka, dari pertanyaan ringan itu, percakapan kami mengalir begitu saja.

Dari nada, berubah jadi lagu.

Dari lagu, berubah jadi cerita.

Kami mulai bertukar referensi musik, mendiskusikan lirik, dan menemukan bahwa selera kami sering kali bertemu di tengah-tengah.


“Kamu pernah denger ‘Always’ dari Rex Orange County?”


“Pernah… Liriknya sedih, tapi hangat. Kayak ngakuin kalau kita belum baik-baik aja ya”


“Iya. Lagu itu kayak pelukan diam buat hari-hari waktu aku ngerasa hancur, tapi tetap ingin dicintai.”


Lagu itu mengalir pelan, jujur tanpa dramatisasi.

Tentang seseorang yang masih dalam proses mencintai dirinya sendiri,

tapi juga diam-diam berharap… ada yang tetap tinggal meski ia belum sembuh.


Dan entah kenapa, sejak malam itu, Lian mulai terasa seperti bagian dari lagu itu.

Seseorang yang tidak datang membawa janji,

tapi hadir dengan sabar—dan itu lebih dari cukup.



Yang mengejutkanku bukan hanya lagu-lagu yang kami bagi,

tapi sisi dirinya yang tak pernah kutahu sebelumnya.


Dia ternyata jenaka.

Cerdas dalam diamnya.

Lucu tanpa berusaha menjadi lucu.

Ia bukan lagi sosok pendiam yang kukenal dua tahun lalu—ia berkembang, tumbuh, dan sekarang berdiri di hadapanku sebagai pria yang berbeda.

Atau mungkin… dia memang seperti itu sejak awal,

aku saja yang dulu terlalu sibuk menaruh perhatian pada seseorang yang lebih terang.



Lian tidak pernah memaksaku untuk membuka pintu.

Dia hanya duduk di depan pintu itu, bersenandung pelan, menunggu dengan sabar.

Dan setiap hari, aku semakin sadar bahwa hatiku tak lagi sekeras dulu.


Namun…


Di sela semua kehangatan dan kenyamanan itu,

masih ada satu bayangan yang menempel erat: Ezra.

Bayangannya tidak segelap dulu,

tapi ia tetap ada.

Dan itu membuatku takut.


Takut membuka hati, takut berharap lagi,

takut akhirnya harus kehilangan untuk kedua kalinya.



Hingga suatu malam, di tengah percakapan ringan yang hangat,

aku benar-benar sadar.


Lian… adalah Lian.

Teman lama dari kisah lama yang pernah kulupakan.

Yang dulu duduk diam di ujung ruangan saat kami semua tertawa.

Yang dulu hanya kusebut lewat tatapan, tanpa pernah sempat kudekati lebih jauh.


Dan kini… dia yang hadir di saat aku paling rapuh,

bukan sebagai pelarian,

tapi sebagai seseorang yang menyentuh luka-lukaku dengan tenang dan hati-hati.



Aku belum tahu ke mana arah cerita ini.

Aku belum tahu apakah Lian akan menjadi rumah baru, atau hanya tempat singgah untuk belajar kembali mencintai diri sendiri.


Tapi satu hal yang kutahu pasti:

cerita ini belum selesai.

Dan entah bagaimana, untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

aku penasaran akan kelanjutannya.

Comments

Post a Comment

Titip pesan apapun untuk Lala<3

Popular Posts