Satu

Lara akhirnya tiba di kantor dua puluh menit lebih lambat dari biasanya. Hujan sudah mulai reda, tapi dinginnya masih menempel di kulit. Payungnya tertinggal pagi itu—tergeletak begitu saja di balik pintu rumahnya karena ia terlalu terburu-buru.


Jaket tipisnya basah sebagian, rambutnya lepek, dan dingin mulai merambat ke ujung kaki. Ia menaruh tasnya,lalu baru sadar ada secangkir kopi di meja. Masih hangat. Dan di sebelahnya, secarik kertas terlipat dua.



“Kamu lupa bawa payung lagi, ya?

Pagi ini aku enggak bisa bantuin, tapi semoga ini cukup buat nemenin pagi kamu Ras”


Lara menatap kertas itu cukup lama. Masih dengan panggilan yang sama “Ras” “Laras”.

Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh cangkir. Entah karena dingin, atau karena ia tahu persis siapa yang menulisnya.


“Dia mampir barusan,” kata Rani dari meja sebelah. “Cuma naruh itu, terus langsung pergi. Baru banget tadi masuk lift.”


Lara hanya mengangguk pelan. Tak ada kata yang cukup.


“Aku kira kamu udah nggak ngobrol lagi sama dia, La?” tanya Rani, hati-hati.


“Kami memang udah jarang ngobrol, Ran,” jawab Lara. 

“Tapi entah kenapa… dia selalu tahu kapan harus datang. Ya, meskipun cuma lewat aroma kopi sih...”


Lara menyesap kopi itu perlahan. Rasanya masih sama—pahit, hangat, dan sedikit rasa hazelnut kesukaannya.

Kayu manisnya tipis, hanya seujung rasa. Tapi cukup untuk membawanya kembali ke pagi-pagi yang dulu… saat Aksa masih menjemput dengan Vespa-nya yang selalu berisik saat dinyalakan.


Dulu, mereka sering ribut soal hal-hal remeh—tentang helm yang bau apek, atau Aksa yang selalu telat lima menit. Tapi pagi ini, Lara justru merindukan hal remeh itu.


Tangannya menggenggam cangkir itu lebih erat. Di luar jendela, hujan mulai deras lagi, rintik kecil yang seperti bisikan pelan dari langit mulai dibumbui gemuruh petir.


Rani, dari meja sebelah, melirik pelan. Dan memanggilnya lagi, “La…”

 

“Hm?” sahut Lara, masih tanpa menoleh.

 

“Kalau kamu masih sesayang itu… kenapa kalian nggak coba bertahan bareng aja?”

 

Lara tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia—lebih seperti sisa dari senyum yang dulu sering muncul saat dengar nama Aksa.

 

“Karena buatku cinta nggak bisa ngalahin ketidakpastian, Ran.”

 

Rani diam, mendengarkan.

 

“Dia keterima beasiswa ke Polandia. Kurang lebih dua sampai tiga tahun. Sementara aku di sini, kerja, jagain ibu, hidup dengan ritme yang sulit buat bisa ditinggal.”

 

“Terus… kalian mutusin buat pisah gitu aja?”

 

“Bukan gitu aja. Menurutku… ada hal-hal yang nggak bisa diselesaikan cuma pakai niat. Jarak itu bukan cuma soal kilometer. Tapi soal arah hidup. Dan semenjak percakapan kami soal itu, aku tahu.. arah kami beda.”


Rani mengangguk pelan.

Ia tak mencoba menghibur. Karena dia tahu, Lara bukan butuh pelukan, tapi pengertian.

Comments

  1. BAGOOSSS BGTTT, hrs dijadiin buku si iniii!!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Titip pesan apapun untuk Lala<3

Popular Posts