Dua

Hening beberapa detik setelah itu terasa lebih berat daripada percakapan barusan. Lara menatap layar komputernya, tapi kata-kata tak mau masuk. Tangannya masih menggenggam cangkir yang mulai kehilangan hangatnya.

Rani berdiri perlahan, mengambil map dari mejanya. “Aku ke ruang meeting dulu, ya,” katanya pelan, seolah takut mengusik sesuatu yang rapuh.

Lara mengangguk tanpa menoleh. “Iya, Ran. Hati-hati.”

Begitu Rani pergi, ruangan terasa lebih sunyi. Hanya suara hujan yang mengetuk kaca, seperti mengingatkannya pada percakapan terakhir dengan Aksa sebulan lalu—perbincangan yang mengubah arah hidup mereka.

Notifikasi ponsel tiba-tiba muncul.
Bukan dari Aksa, tentu saja.
Dari Grup Kantor - Finance.

Tapi saat dia membuka ponsel, matanya justru berhenti pada satu nama di bawah:
Aksa.

Terakhir online: 2 minutes ago.

Lara menelan ludah. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak—bukan harapan, hanya refleks dari rasa yang belum mati.

Ia memalingkan wajah, mencoba fokus. Tapi kenangan itu datang seperti hujan yang jatuh tanpa aba-aba.


Kilas balik sebulan lalu — sore itu, di apartemen Aksa.

Hujan juga turun hari itu. Ironis sekali.

Lara duduk di sofa abu-abu yang sudah berulang kali jadi saksi pertengkaran kecil mereka. Aksa berdiri di depan jendela, tidak menatapnya, hanya memandangi sisa-sisa hujan yang menetes dari atap gedung sebelah.

“Jadi… kamu beneran berangkat?” Suara Lara pecah lebih lembut dari yang ia rencanakan.

Aksa menutup mata sejenak. “Laras… ini kesempatan yang aku tunggu sejak sebelum kita ketemu.”
Nadanya pelan, bukan membela diri—lebih seperti seseorang yang memohon dimengerti.

“Aku tahu.”
Lara menatap tangannya sendiri. “Aku cuma… nggak yakin kita siap buat ini.”

Aksa mendekat, duduk di sebelahnya. “Aku sayang sama kamu. Aku mau kita jalanin bareng.”

“Dua sampai tiga tahun, Sa..”
Matanya akhirnya bertemu.
“Dan aku masih harus kerja, jagain ibu… kamu tahu aku nggak bisa pergi.”

Aksa tak menjawab. Karena itu kenyataan.

“Dan aku takut,” lanjut Lara pelan, “takut kalau kita maksa… kita malah saling nyakitin.”

Aksa memejam. “Aku nggak mau dan ga ada niat untuk nyakitin kamu, Ras.”

“Aku tahu.”
Lara tersenyum kecil—yang hanya muncul ketika seseorang sudah memilih untuk ikhlas.
“Makanya… mungkin ini cara paling baik.”

Aksa menggenggam tangannya. Hangat. Terlalu hangat untuk sebuah perpisahan.

“Kalau ada hidup lain,” kata Aksa dengan suara paling pelan yang pernah Lara dengar, “aku mau kita ketemu lebih awal.”

Lara menahan napas. “Aku juga.”


Suara ketikan keyboard dari meja seberang menariknya kembali ke kantor. Lara memejamkan mata sebentar, menarik napas dalam.

Kemudian ia membuka mata, menatap cangkir kopi yang sudah hampir dingin.

Cinta mereka belum selesai—tapi, mungkin memang sudah harus berhenti di sini.

Comments

Popular Posts