Dua
Hening beberapa detik setelah itu terasa lebih berat daripada percakapan barusan. Lara menatap layar komputernya, tapi kata-kata tak mau masuk. Tangannya masih menggenggam cangkir yang mulai kehilangan hangatnya. Rani berdiri perlahan, mengambil map dari mejanya. “Aku ke ruang meeting dulu, ya,” katanya pelan, seolah takut mengusik sesuatu yang rapuh. Lara mengangguk tanpa menoleh. “Iya, Ran. Hati-hati.” Begitu Rani pergi, ruangan terasa lebih sunyi. Hanya suara hujan yang mengetuk kaca, seperti mengingatkannya pada percakapan terakhir dengan Aksa sebulan lalu—perbincangan yang mengubah arah hidup mereka. Notifikasi ponsel tiba-tiba muncul. Bukan dari Aksa, tentu saja. Dari Grup Kantor - Finance . Tapi saat dia membuka ponsel, matanya justru berhenti pada satu nama di bawah: Aksa . Terakhir online: 2 minutes ago. Lara menelan ludah. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak—bukan harapan, hanya refleks dari rasa yang belum mati. Ia memalingkan wajah, mencoba fokus. Tapi kenangan ...